9 Sajian Kuliner Solo yang Khas dan Memanjakan Lidah

Kuliner Solo yang khas dan nikmat menjadikan kota kelahiran Presiden Joko Widodo ini terkenal dan dikunjungi banyak pelancong dari beberapa wilayah. Biasanya para pelancong di Kota Solo ini berburu berbagai macam jajanan pasar atau street food atau makanan jalanan.

  • Selat Solo

Selat Solo merupakan sebuah hidangan khas Jawa yang dipengaruhi oleh hidangan Eropa. Makanan ini terdiri dari daging sapi has luar yang direbus didalam kuah encer yang terbuat dari bawang putih, cuka, kecap manis, kecap Inggris, air serta dibumbui dengan pala dan merica.

Makanan ini kemudian disajikan bersama telur rebus dan sayur-sayuran seperti buncis, kentang, tomat, selada, mentimun, kol atau brokoli dan wortel, serta ditaburi keripik kentang dan ditambahkan sedikit mayones di sampingnya.

Walaupun memiliki nama selat solo — yang mengacu kepada makanan salad, bagian utama makanan ini berupa sebuah daging sapi (umumnya has luar) yang menjadikan hidangan ini tidak cocok untuk dikatakan sebagai salad, melainkan sebagai sebuah bistik yang disajikan dalam kuah manis encer khas Jawa.

Beberapa orang menyebut hidangan ini sebagai sebuah percampuran antara bistik, salad dan sup. Hidangan ini juga sering disebut sebagai Bistik Jawa, walaupun hidangan tersebut mengandung lebih sedikit kuah.

  • Timlo

Terdapat berbagai pendapat mengenai makanan ini. Ada yang mengatakan jika Timlo merupakan makanan seperti sup. Ada juga yang mengatakan bahwa Timlo merupakan gabungan sup dan soto. Memang, hidangan ini berkuah bening mirip dengan sup tetapi rasanya gurih menyegarkan seperti rasa soto.

Bumbu Timlo cukup sederhana, terdiri dari air kaldu ayam pekat, bawang putih, pala, lada, dan taburan bawang goreng di atas nasi. Sementara isinya adalah hati ampela, semur telur bebek, daging ayam, dan sosis khas Solo yang berbentuk martabak telur.

  • Tengkleng

Tengkleng merupakan masakan sejenis sup dengan bahan utamanya adalah tulang kambing. Tengkleng memang menjadi salah satu Kuliner Solo yang harus anda coba. Masakan yang mirip dengan gulai tersebut memiliki kuah yang lebih cair dan berisi tulang kambing dengan sedikit daging yang melekat. Cara penyajian tengkleng di atas pincuk juga menambah kenikmatan tersendiri.

Konon menurut para tetua, di kota Solo dahulu hanya para bangsawan dan orang-orang Belanda sajalah yang bisa menikmati masakan daging kambing.

Hanya kepala, kaki, dan tulang saja yang tersisa untuk pekerja dan tukang masak. Para juru masak pada waktu itu tak kurang akal, maka dimasaklah tulang-tulang itu yang tentunya masih menempel sedikit daging.

  • Sate Buntel

Menurut dari kabar yang beredar, presiden kedua Indonesia, Bapak Soeharto, sangat menyukai Sate Buntel ini. Bapak Presiden Joko Widodo pun juga termasuk salah satu penggemarnya. Jika dua orang paling berpengaruh di tanah air itu saja menyukainya, mengapa anda tidak mencoba hidangan kuliner Solo yang satu ini.

Makanan ini terbuat dari daging kambing cacah yang kemudian dibungkus dengan lapisan lemak tipis dan kemudian dibakar. Proses ini tentunya memang memberikan nuansa tersendiri bagi penikmatnya. Lemak pembungkus yang terbakar menambah aroma, yang dapat mengundang anda untuk segera menikmatinya.

Dengan bumbu kecap, irisan bawang merah dan daun kol, serta jeruk nipis dan cabai rawit sebagai tambahan, anda akan mengetahui alasan mengapa Soeharto dan pak Jokowi begitu menyukai Sate Buntel ini.

  • Brambang Asem

Jika anda ingin merasakan makanan khas Solo zaman dahulu, taka da salahnya anda mencicipi kuliner Solo yang satu ini. Seperti namanya, Brambang Asem adalah makanan yang terbuat dari daun ubi jalar yang direbus, beraroma bawang merah dengan rasa pedas, yang bisa disantap dengan tempe gembus, tempe yang terbuat dari ampas tahu. Brambang Asem bukan merupakan hidangan utama, melainkan camilan untuk menikmati hari.

Di zaman dulu, makanan ini banyak dijajakan keliling, tapi kini agak susah mendapatkannya.
Meski begitu, brambang asem kini bisa ditemui di sejumlah restoran yang menyediakan makanan khas Solo.

  • Gudeg Solo

Gudeg Solo memiliki tampilan berwarna keputihan dan berkuah. Variasi pelengkapnya berupa ceker, daun singkong, atau kacang tholo. Di beberapa tempat, Gudeg Solo juga disajikan dengan bubur lembut yang hangat, mirip bubur sumsum.

Untuk cita rasanya Gudeg Solo tidak semanis Gudeg Jogja, dan ada sentuhan rasa gurih di kuahnya. Jika anda menyukai makanan yang pedas, bisa menambahkan sambal goreng krecek jika tersedia. Gudeg Solo juga sempat menjadi menu di pernikahan Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution.

  • Bubur Tumpang

Bubur tumpang merupakan salah satu menu khas dari Kota Solo. Bubur ini memiliki citarasa yang gurih. Selain di Kota Solo, bubur tumpang juga banyak dijumpai di Boyolali. Bubur tumpang menjadi salah satu menu lezat untuk sarapan.

Bubur tumpang dimasak dengan santan, kemudian di atasnya “ditumpangi” sambal tumpang, yang mana disebut sambel lethok di Boyolali.

Sambal tumpang terbuat dari santan dan tempe bosok (tempe basem) yang dibumbui cabai, kencur, serai, daun salam, daun jeruk, bawang merah, dan bawang putih.

  • Lenjongan

Lenjongan merupakan nama atau istilah untuk menyebut penjualan bermacam-macam jajanan di pasar tradisional di Solo.

Lenjongan terdiri dari berbagai jenis komposisi makanan, seperti ketan ireng (ketan hitam), klepon, getuk, tiwul, ketan putih, cenil dan masih banyak lagi jajanan basah lainnya. Campuran ini yang menjadi favorit karena menyatukan berbagai jenis rasa tradisional dalam satu wadah.

Penjual lenjongan saat ini tidak sebanyak dahulu. Jajanan basah ini biasa dijual di pasar-pasar Kota Solo. Kemudian ada juga di luar pasar tradisional tadi sangat jarang sekali.

Bagi masyarakat Solo, lenjongan sudah menjadi makanan favorit. Lenjongan sudah menjadi salah satu ikon kuliner tradisional Kota Solo. Bagi Anda yang melancong ke Kota Solo, jajanan satu ini patut dicoba.

  • Cabuk Rambak

Cabuk Rambak sudah tergolong langka di tempat asalnya yaitu Solo. Jika kita ingin menikmati makanan ini, tidak semua tempat ada yang menjualnya. Hanya di tempat-tempat tertentu seperti Pasar Gede yang merupakan pasar tradisional terbesar di Solo.

Walaupun sulit di dapat, makanan ini bisa membuat orang yang menikmatinya ketagihan dan ingin menikmatinya lagi. Porsi penyajiannya tidak begitu banyak sehingga makanan ini cocok sebagai makanan sela. Walaupun isi utamanya adalah ketupat yang mengandung banyak karbohidrat, tapi porsinya tidak membuat perut kenyang.

Makanan ini terlihat sangat sederhana, tersaji di dalam wadah daun pisang yang disebut “pincuk”. Daun pisang inilah yang membuatnya terlihat unik dan keunikan selanjutnya nampak pada cara memakannya. Cabuk rambak bukan dimakan dengan tangan atau sendok maupun garpu seperti makanan lainnya, akan tetapi cabuk rambak ini dimakan dengan menggunakan lidi yang ditusukkan pada salah satu irisan ketupat.

Related Posts

Add Comment